Canonical URL adalah URL yang dianggap sebagai versi utama atau paling representatif dari sekumpulan halaman yang duplikat atau sangat mirip. Dalam Google Search, canonicalisasi membantu mesin pencari mengelompokkan halaman serupa dan memilih URL yang akan diperlakukan sebagai versi utama.

Pemilik website dapat memberi sinyal canonical menggunakan beberapa metode, termasuk elemen rel="canonical". Namun, Google tetap dapat memilih canonical yang berbeda jika sinyal lain menunjukkan bahwa URL lain lebih sesuai.

Mengapa canonical URL penting

Website sering memiliki beberapa URL yang menampilkan konten sama atau hampir sama. Contohnya dapat muncul dari parameter tracking, variasi filter, versi cetak, variasi protokol, atau struktur URL yang berubah.

Tanpa pengelolaan yang jelas, sinyal dapat tersebar ke beberapa URL. Canonicalisasi membantu menyatukan preferensi terhadap URL utama dan mengurangi kebingungan dalam pengelolaan halaman duplikat.

Bagaimana Google memilih canonical

Google mengelompokkan halaman yang dianggap duplikat, lalu memilih satu URL sebagai canonical. Pemilik website dapat memberikan sinyal, tetapi keputusan akhir tetap berada pada sistem Google.

Sinyal yang dapat membantu antara lain penggunaan rel="canonical", redirect, sitemap, serta internal link yang konsisten menuju URL utama. Google juga menyarankan agar internal link mengarah ke canonical URL yang memang ingin diprioritaskan.

Kapan rel canonical digunakan

Elemen rel="canonical" berguna ketika beberapa URL perlu tetap dapat diakses tetapi satu URL ingin dijadikan versi utama. Contoh umum adalah halaman yang memiliki parameter atau versi yang sangat mirip.

Implementasi dasar di HTML terlihat seperti berikut:

URL pada contoh hanya ilustrasi. Canonical harus menunjuk ke halaman yang benar-benar sesuai dengan konteks konten.

Self-referencing canonical

Self-referencing canonical adalah canonical yang menunjuk ke URL halaman itu sendiri. Praktik ini dapat membantu menegaskan URL utama, terutama jika halaman dapat diakses melalui variasi URL tertentu.

Meski begitu, canonical tidak boleh diperlakukan sebagai pengganti arsitektur URL yang rapi. Redirect, internal link, sitemap, dan konfigurasi server tetap perlu konsisten.

Kesalahan canonical URL yang sering terjadi

Canonical menuju halaman yang tidak setara

Canonical sebaiknya digunakan untuk halaman duplikat atau sangat mirip. Menunjuk halaman kategori ke artikel yang berbeda intent hanya demi memindahkan sinyal dapat menghasilkan interpretasi yang tidak sesuai.

Canonical ke URL error atau redirect

Target canonical sebaiknya merupakan URL final yang dapat diakses dan sesuai. Rantai redirect atau target yang tidak tersedia membuat sinyal menjadi kurang jelas.

Sinyal yang saling bertentangan

Masalah muncul ketika canonical menunjuk URL A, sitemap mencantumkan URL B, dan internal link lebih banyak mengarah ke URL C. Konsistensi membantu mesin pencari memahami preferensi website.

Canonical lintas domain tanpa alasan yang tepat

Canonical lintas domain dapat digunakan pada situasi tertentu, tetapi harus benar-benar mewakili hubungan duplikasi yang relevan. Implementasi sebaiknya tidak dilakukan tanpa memahami konsekuensinya terhadap visibilitas URL sumber.

Canonical bukan redirect

Redirect mengarahkan pengguna dan crawler dari satu URL ke URL lain. Canonical adalah sinyal mengenai URL utama, sementara halaman sumber masih dapat tetap diakses.

Jika sebuah URL sudah tidak diperlukan secara permanen dan semua pengguna seharusnya menuju URL baru, redirect biasanya lebih sesuai. Jika beberapa versi tetap diperlukan tetapi isinya sama atau sangat mirip, canonical dapat menjadi pilihan yang relevan.

Cara audit canonical URL

  1. Identifikasi halaman duplikat atau sangat mirip.
  2. Periksa canonical yang ada pada masing-masing URL.
  3. Pastikan target canonical berstatus normal dan dapat diakses.
  4. Bandingkan canonical dengan sitemap dan internal link.
  5. Periksa URL Inspection untuk melihat canonical yang dipilih Google.
  6. Perbaiki sinyal yang bertentangan.

Kapan canonical tidak diperlukan

Tidak semua halaman dengan topik mirip harus dicanonical-kan. Dua artikel yang membahas topik sama tetapi memiliki intent, isi, dan fungsi berbeda sebaiknya dievaluasi sebagai halaman terpisah. Canonical bukan alat untuk mengatasi semua masalah keyword cannibalization.

Keputusan canonical sebaiknya dimulai dari pertanyaan sederhana: apakah kedua URL pada dasarnya merupakan versi dari halaman yang sama? Jika jawabannya tidak, solusi lain mungkin lebih tepat.

Sumber rujukan

Artikel Terkait

© 2022 Acuan Digital | Digital Marketing dan Branding Agency